Kamis, 08 Oktober 2020

MENTAL HEALTH

 

Nama : Elsa Mayori

Fakultas : Program Pendidikan Vokasi

Prodi : Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual

Cluster : 14

Mental Health. Mungkin masih banyak orang yang belum tau pentingnya kesehatan mental, yang mereka tau hanya kesehatan fisik saja. Walaupun luarnya terlihat sehat, namun terkadang ada saja orang yang diam diam menyembunyikan masalahnya sampai dia stress dan tidak mau meceritakan masalahnya pada orang lain. Ada juga misal mahasiswa/pelajar yang kebanyakan tugas, mereka mesti diam-diam tertekan dengan hal itu. Contoh lain anak yang tertekan karena perilaku orang lain padanya,misalnya dibully. Nah itu semua termasuk faktor penyebab gangguan kesehatan mental.

Gejala gangguan mental itu tidak sama dengan gangguan kesehatan fisik. Sering kali mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental tidak sadar bahwa mentalnya terganggu. Biasanya orang yang memiliki gangguan mental memiliki kendali emosi yang buruk seperti gangguan suasana hati, stress, gampang cemas, dan lain sebagainya.

Biasanya yang rentan terkena stress itu para kaum generasi Z atau kita para remaja. Seringkali kita tidak menyadari bahwa terlalu banyak tugas itu bikin mental kita terganggu, apalagi tugasnya banyak dan deadlinenya mepet, mungkin kita akan uring-uringan, overthinking, badmood, cemas dan lain sebagainya. Secara tidak sadar itu merupakan gejala awal mental kita terganggu.

Apalagi nih sekarang marak kasus pembullyan dikalangan pelajar, ngga hanya sekarang aja sih sebenernya dari dulu kasus ini sudah marak. Misalnya aku sendiri waktu masih kecil juga sering dibullu, pas pertengahan SMA aku pernah juga dibully sampai aku mengurung diri di kamar dan bodohnya aku tidak melawan mereka. Tapi gapapa sih, dilawan juga percuma. Aku saat itu juga diam aja gaada niatan buat cerita ke orang tua, karena aku takut. Aku baru cerita ke orang tua sekitar akhir SMA kalau nggak salah.

Percaya atau tidak, bullying itu akan selalu ada. Media sosial dan cyber hanyalah salah satu perantaranya. Isolasi dan adiksi juga pasti ada pemicunya. Mengapa remaja ‘lari’ ke media sosial yang bersifat virtual? Kebosanan dan negativitas yang dirasakan dari lingkungan ‘asli’-nya bisa saja menjadi pemicu utamanya.

Justru ketika kita menelaah lebih dalam, banyak sekali situs, aplikasi, laman facebook, akun Instagram, thread Twitter yang menawarkan bantuan dan wadah support group terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental, yang kebanyakan partisipannya adalah remaja. Di sini, saya tidak bermaksud membela media sosial atau bahkan mengatakan media sosial itu baik untuk kesehatan mental.

Bila anda mencurigai kenalan, sahabat, anak, ataupun kolega yang mengalami gangguan kesehatan mental (baik ringan maupun berat) dan anda merasa tidak bisa membantunya, segeralah anjurkan atau kenalkan dengan pakar kesehatan mental seperti Psikolog. Dengan begitu, proses untuk meringankan tekanan gangguan tersebut bisa dimulai dengan cepat. Banyak-banyaklah berbincang dengan pakar kesehatan mental untuk kondisinya. Cari tahu apa yang bisa anda lakukan, terlebih dahulu ketimbang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mengalami.

Ketahuilah bahwa remaja dan dewasa muda pada umumnya saja akan mengalami fase pencarian identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah, kuliah, dan pekerjaan pertamanya. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi pikiran negatif, kecemasan berlebihan, dan pikiran-pikiran yang menghantui secara bersamaan. Dukungan adalah hal utama yang mereka perlukan.

Tidak melulu harus bersama dengan pakar. Di luar sana banyak sekali hasil riset, video pakar kesehatan mental, grup online/pertemuan untuk orang dengan gangguan kesehatan (begitu juga dengan orangtua/guru dengan anak murid dengan kesehatan mental) yang bisa ditelusuri. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu lebih banyak untuk pendekatan anda sendiri, bukan?

Kembali lagi, tidak seperti virus yang bisa disembuhkan begitu saja dengan obat atau vaksin. Gangguan kesehatan mental dengan berjuta perisa dan bentuk tidak bisa hilang begitu saja. Itulah prinsip utamanya yang tidak diketahui banyak orang. “Perang” terhadapnya membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang panjang. Pada akhirnya, mengatasi atau tidaknya (baik untuk pemerintah, orangtua, guru, dan orang orang terdekat) kembali lagi kepada pertanyaan, apakah anda cukup peduli?

 

 

 

Kamis, 01 Oktober 2020

Stop Insecure

 

Nama : Elsa Mayori

Fakultas : Program Pendidikan Vokasi

Prodi : Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual

Kalian pernah nggak sih merasa diri kita itu berbeda dengan orang lain? Kalo iya itulah yang aku rasakan sekarang. Tidak sedikit bahkan semua orang akan berkata kalau cewek harus pinter dandan dan merawat diri, kalau nggak gitu gabakal punya temen. Menurutku opini itu nggak sepenuhnya bener sih. Kalau emang kamu teman yang baik, kamu akan menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada temanmu itu. Balik lagi ke topikku ya, dulu aku jarang punya teman dan aku gatau apa alasannya, tahuku mereka gamau berteman denganku karena aku bukan anak orang kaya. Tapi ternyata itu gabener sama sekali. Mereka gamau berteman denganku karena aku ga cantik. Lucu ya, kejadian itu berlangsung saat aku kelas 6 SD. Itu awal aku insecure tentang penampilan diri. Lalu apakah aku tidak insecure dengan hal lain? Jawabannya, ya. Aku insecure dengan temanku yang pintar. Dulu sih aku ‘katanya’ termasuk murid yang pintar karena selalu masuk peringkat 3 besar, waktu itu ayahku berniat ingin memasukkan aku di SMP favorit. Tapi salah satu temanku ada yang tahu. Mereka langsung bilang ke aku kalau aku gabakalan bisa masuk sekolah favorit semacam itu, kalaupun masuk pasti lewat jalur belakang. Sepulang sekolah aku nangis dikamar dan aku berfikir apa aku tidak pantas bersekolah disitu? Aku tak pernah menceritakan itu pada orang tuaku, karena aku termasuk orang yang tertutup dan sampai sekarang pun tetap seperti itu. Akhirnya aku masuk ke SMP itu lewat jalur nilai.

Tak berhenti sampai disitu, waktu SMP aku masih merasa insecure dan tetap saja dalam hal penampilan. Aku waktu itu pendek, kurus, kulit item, rambut mengembang, dan lain lain yang ada dalam diri aku yang menurut aku berbeda dengan orang orang lain. Waktu itu teman temanku banyak yang menyukai, apalagi anak anak cowok kelas sebelah pada suka sama teman sebangkuku karena dia sangat cantik dan manis. Setiap aku berjalan berdua dengan temanku ittuu, pasti banyak anak cowok yang memanggi manggil temanku itu, sedangkan aku tidak diliri sama sekali. Beberapa hari kemudian waktu kerja kelompok bersama temanku cowok dia juga selalu mengajak ngobrol teman sebangkuku itu, lalu mereka becanda tapi entah itu menyindirku apa bagaimana yang jelas mereka membicaran tentang cewek yang tidak cantik. Akupun makin insecure sama semua itu. Akhirnya sepulang sekolah aku berdiri didepan kaca dan tetap saja aku tidak merasakan ada yang aneh dariku. Memang sih waku aku SMP temanku ada yang sudah pakai make up. Sedangkan aku ya tetep aja pake bedak bayi sama handbody, nggak pernah pakai sunscreen, dan malah aku gatau apa itu.

Waktu kelas 9 aku tetep aja ngerasa insecure. Teman temanku sudah mulai melakukan perawatan dan jadi cantik. Jangan tanyakan aku ya, soalnya aku masih pake bedak bayi. Temanku cowo juga gaada tuh yang suka sama aku, ya mungkin pas itu aku dekil jadi jijik buat temenan sama aku.

Ketika aku udah masuk SMA, aku menyukai seorang cowok. Tapi harapanku sempet pupus gara gara dia bilang langsung ke aku kalau aku itu dekil, jelek, terlalu kurus, kulit hitam, gabisa dandan, dan lain lain yang menjelekkan penampilanku. Sampai itu berlalu saat aku kelas 12 aku dekat dengan kakak kelasku, dia sudah berkuliah. Dia bilang ke aku kalau aku itu jelek, pendek, kulit item kusam, dan apalah itu. Sampai akhirnya aku berfikir, oh aku harus berubah biar mereka yang menjelekkan aku akan bilang kalo aku tidak seperti yang mereka katakan. Sampai saat itu aku sudah tidak lagi dengan kakak kelasku itu, aku fokus merawat diriku, aku mulai suka pakai masker, scrub badan, skincare, make up, dan lain sebagainya. Seiring berubahnya waktu teman temanku berkata kalau aku sudah terlihat cantik layaknya ABG cewek pada umumnya.

Aku mulai saat itu rajin berolahraga dan makan teratur hingga akhirnya aku terlihat tidak sekurus dulu, aku selalu sunscreen/sunblock saat keluar rumah, dan kini aku tidak sekusam dulu. Namun itu tidak berlangsung lama, karena ada temanku yang mengatakan aku sangat gendut, aku mencoba untuk tidak mendengarkan perkataan mereka. Tapi lama kelamaan telingaku terasa panas gara gara diomongin sana sini oleh temanku.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa mengikuti perkataan orang lain itu adalah hal yang tidak benar dan tidak ada habisnya. Sekarang aku lebih mementingkan diriku sendiri daripada perkataan orang lain. Sempat dikira gaya lah, sombong, sok tau soal kesehatan lah, tapi aku bodo amat soalnya yang paham sama tubuhku ya diriku senndiri, kalian berhak menilaiku tapi kalian tidak bisa merubahku jadi apa yang kalian inginkan. Coba deh kalian jadi aku, yang hampir setiap hari diomongin soal bentuk tubuh. Terserah mereka mau bilang apa padaku mereka juga tidak tau apa yang kita rasakan. Apalagi jika cowok yang berkata seperti itu mulutnya jahat banget dan aku gasuka. Ga disuruh orang lain pun aku juga menjaga kesehatan diri kok, tapi ya terserah mereka lah aku ‘iya’ in aja.

Jadi teman teman, mulai sekarang yuk love yourself dan jangan dengerin perkataan yang buruk dari orang lain. Boleh sih kamu dengerin orang lain, tapi ya harus yang nasihat baik ya manteman. Jangan lupa selalu percaya diri dan jangan insecure, kalian itu terutama cewek semua cantik, mau yang pendek, tinggi, gendut, kulit sawo matang, kulit putih, dll itu kalian semua cantik. Cantik itu ga hanya fisik, melainkan keindahan hati.

Senin, 23 September 2019

Cerkak Basa Jawa (Elsa Mayori)

TEMA : KEKANCAN

SALAH PAHAM, APIK APA ORA?


     Kring kring swarane jam weker ngganggu turune Tarisa. Sinambi mripate merem dheweke mateni jam lan nerusne turune. Ora suwi jam weker e muni maneh, Tarisa mbukak slimut sinambi njupuk jam lan disawang jam e, “halah isih jam 06.30 e” munine karo dibatin. Jam weker e isih ana ing tangan e Tarisa, “HE? JAM 06.30?” bengok e. Dheweke cepet-cepet tangi lan adus. Ora ana 10 menit Tarisa wis bar adus lan sragaman, banjur gawe wedak bayi lan lipbalm ben raine ora pucet. Ora lali gawe ID CARD khas bocah MOS.
     Jeneng e Tarisa Putri Dewanti biyasa diceluk Tarisa, saiki dheweke uwis kelas 1 SMA ing kuthane. Dina iki, Tarisa ana acara MOS utawa pengenalan sekolah.
Tarisa metu kamar karo nyekel sepatune banjur mlayu mudun menyang pawong nemoni ibune. Dheweke cepet-cepet budal, wedi kasep amarga iki dino kapisan dheweke mlebu SMA, lan ora lali pamitan karo ibune. “Ibuk, Tarisa badhe sekolah rumiyin nggeh” kanda Tarisa sinambi salim ibuke. “He nduk sarapan disek, ojo ndang budal”. Kandane ibuk e Tarisa-Dewi. “kula sarapan wonten sekolah mawon buk, sakniki sampun mboten nuntut wancine, mangke telat buk, Tarisa  bidal rumiyin, Assalamualaiku buk”. Tarisa budhal sekolah numpak onthel sing diwenehne dheweke nalika ulang tahun ke-16 saka bapake.
“Huh akhire ora telat” muni Tarisa nalika wis ngliwati gerbang. “he Sa! Apa endak kurang awan budhalmu sekolah?” kanda Rena. “Halah paling mbangkong kuwi maeng” saute Fida. “Halah uwes-uwes ayo cepet menyang lapangan, kakak OSIS uwes ngekon murid MOS kumpul kae lo” Mita nengahi.
     Tarisa, Rena, Fida, lan Mita banjur menyang lapangan baris. Iki mau hawane panas lan sapa wae sing ning lapangan suwe bakal garing koyok iwak teri dipanggang. “Yahh, aku kok ngarep dhewe to cah?” kandane Tarisa. “Westo rapopo, awakmu lo dhuwur, Sa” saut Fida. Ing lapangan cah-cah ngrungokne kanti patiti arahan saka osis e.

BRUK!!

“TARISA!!” Bengok e Fida sing ana pas mburine Tarisa nalika deweke semaput. “sing semaput enggal digowo menyang UKS kana” munine Ketua OSIS. “Kene dek kancamu ben ditandu bocah PMR” kanda salah sawijining cah PMR sing nulung Tarisa.
     Tarisa banjur digowo menyang UKS ning cah PMR. “Vin, tunggunen iki yo sampek dheweke sadar, iki maeng uwes tak usuk lenga kayu putih. Awas kowe aja aneh-aneh” kanda Rani, salah sawijining PMR sing nulung Tarisa ngomongi Vino. Vino banjur ndilok kondisine bocah semaput kuwi. “pucet e bocah iki, tapi lek disawang-sawang kok manis emen” kanda Vino karo mesem titik. “Engghhh” suarane Tarisa nyadarne Vino sg nglamun. “Heh awakmu spo?” kaget Tarisa banjur tangi. “Ak-“ munine Vino kepotong karo suarane kanca-kancane Tarisa.

“Ya ampun, Sa awakmu ginio kok iso sampek semaput ki?”

“Pye Sa, apamu sing lara?”

“Pucet e kancaku iki”

     Kuwi kandane kanca-kancane Tarisa nalika  mlebu UKS. “Ekhem, anu iki sek munduro cah yo, kancamu tak periksane” kanda Vino sing mumet anane kebisingan.
Vino meriksa Tarisa kanthi tlaten. Sampek kanca-kancane Tarisa kagum kesemsem karo Vino sing bagus e kaya Arjuna.

“Heh awakmu kabeh mingkem o jale, ojo kesemsem koyok ngono”. Kandane Tarisa karo cekikikan. Sing disawang amung meneng wae karo mesem tipis.
“Awakmu opo durung sarapan, dek?” takon Vino alus sinambi nyekel pundake Tarisa
Tarisa amung ngobahne sirah e tanda yen dheweke durung sarapan. Banjur Vino menehi roti kanggo Tarisa. “cieee Tarisa, awak e kabeh ngalih njo! Tarisa uwes enek sing njaga ning kene” kanda Rena. Fida lan Mita sinis kroso ra disemantani lan bocah loro kuwi cemburu nalika Tarisa diwenehi perhatian ing Vino sing sejatine kakak kelas sing bagus, beda karo Rena sing biyasa wae nalika Tarisa dijagani Vino.

“huh yo ngono kuwi lali kanca, kancane ning kene ora disemantani pehne wis enek sing njagani e.” saut Mita

“yowes ayo cah ngalih, ning kene renek gunane ra disemantani blas.” Kanda Fida
Sing di omongne amung meneng wae karo melas, dheweke ora nyangka yen Mita lan Fida bakal omong ngono.

“He cah uwes-uwes, ojo ngono, Tarisa ra semonto bukane piye-piye, dheweke nyatune tas semaput kok awakmu kabeh wis nakoni sembarang-barang”. Rena nengahi.

“ayo ngalih e, sumpek aku ning kene, njo Mit awak e ngalih” munine Fida jengkel karo ninggalne UKS lan disusul Fida.

“Aku metu dhisek yo, Sa. Ndang mari.” Kanda Rena alus.

     Sakbanjure kancane Tarisanesu, Vino mung meneng ae ndak wani nakoni Tarisa sing ketaranne sedih.
“Dek, uwes ojo dipikirne, kancamu mau amung salah paham. Luwih apik awakmu turu dhisek ing kene, tak baturi sampek marimu.” Kanda Vino lan Tarisa manut wae.

***

     Pas istirahat kapisan, Tarisa ijin ning Vino arek mbalik ning kelas. Nanging, Vino ra tega, akhire Vino ngijinake Tarisa mbalik kelas yen dheweke gelem diterne Vino. Awal e Tarisa nolak, tapi dhewek e mlakkune wae isek durung tenggen wedi ambruk maneh, akhire dheweke gelem diterne Vino.

“Hih kanca kayak opo kuwi, yen ning kene enek sahabat e malah njaluk tulung wong liyo.” Sinis Mita nalika Tarisa wis teka ngarep lawang kelas karo Vino sing ning sisih e.

“Ayo, Sa karo aku wae. Ojo kok rungokne omongan e cah-cah.” Kanda Rena

                                    ***
     Nalika muleh sekolah, Tarisa mlaku dhewe tanpa  kanca-kancane. “Hem perkara ngene wae kancaku sampek nesu, jan raket tenan kekancanku, tapi yen dipikir-pikir kancaku yo egois merga ana wong sing nulung aku malah nesu-nesu pehne ra melu nulungi aku.” Dumel Tarisa nalika mlaku menyang parkhiran sepedha. Dheweke ora ngerti yen Fida lan Mita cemburu yen dheweke dijagani wong bagus.

“Assalamualaikum” bengok e Tarisa sinambi mbukak lawang omah.

“Waalaikumsalam nduk” saut bapak e Tarisa-Adi. Tarisa banjur salim bapak e, ora lali salim ibune sing ana ing pawon terus munggah menyang kamare.

     Ing kamar Tarisa mbukak HP lan enek notif hp tanda ana pesan mlebu. “oh saka grup kancaku” batin Tarisa banjur dibukak lan diwoco isine.

“Mas Vino ganteng yo pengen dadi pacare aku” –Mita

“Heh genahno mas Vino wis demen karo kancane awak e to, sampek awak e ra disemantani, iyo opo ora?” –Fida

“Cah uwes-uwes, mas Vino iku mau amung nglakoni tugas dadi PMR lo, yo wajar ae alus menyang Tarisa.” –Rena nengahi.

Tarisa nguncalne hp ne ing kasur, dheweke ora nyangka yen kancane nyenggaki trima gara-gara mas Vino sing perhatian ning dheweke.

                                    ***

     “Alhamdulillah, aku ora telat” lega Tarisa. Dheweke eroh Fida lan Mita ngliwati Tarisa ngunu wae tanpa nyapa, mlirik ae ora. Tarisa pasrah wae, banjur ana tangan sing ngrangkul Tarisa, sopo maneh yen uduk Rena. “Hai sedih ae, uwes to uwes cah loro kae cemburu lek e karo awakmu.” Tarisa meneng wae. Ing tengah perjalanan menyang kelas, Tarisa lan Rena cethukan Vino. “Dek, piye keadaanmu, wis mari?” takon e Vino menyang Tarisa. “sampun mas, matursuwun wingi aku wis sampean wenehi roti.” Kandane Tarisa. “Mas, Tarisa dinesoni kancane sing loro amarga cemburu eruh sampan perhatian ning Tarisa.” Ceplos Rena karo nyengir. Tarisa sing krungu banjur midek sikile Rena sampek Rena kelaran. “Iku uwes tugasku dek menehi perhatian ning bocah sing lara, amarga aku cah PMR, nyapo kancane Tarisa cemburu?” takone Vino. “Anu mas kayane Fida lan Mita seneng ambi sampean mas, cah loro kuwi pengen oleh perhatian saka sampean, lan cah loro kuwi salah paham dikirane sampean demen karo Tarisa” kanda Rena. “Emmm mas, aku pamit sek ya mas, wis bel iki” kanda Tarisa cepet sakdurunge kedawan-dawan lan dheweke isin.
     Ing kelas, Tarisa wis ora lungguh sakursi karo Mita, dheweke sidane sakursi karo Rena. Sakdawane pelajaran Tarisa amung krungu suarane Fida lan Mita ngrasani dheweke. Nanging, Tarisa meneng wae etok-etok ra krungu.
     Ing kantin, Tarisa amung karo Rena. Ing panggon liya, Vino mlaku menyang perpustakaan cethukan Mita lan Fida. “Mas, bagusmu kok eram lo” kanda Mita. Vino mung mesem titik ra pengen omong liya. “Kok eram mas dijak omong kok ra nyauri, yen karo Tarisa wae apik eram. Ayo Da awak e ngalih”. Nesu Mita.

                                    ***

     Iki mau dina Minggu, biyasane kanca-kancane Tarisa dolan menyang omah e Tarisa, nanging minggu iki ora ana sing dolan menyang omahe. Ibuke Tarisa nganti takon ping akeh nakokake kancane Tarisa sing ora ana sing mara dolan. nanging Tarisa gawe alasan liya.
     Saiki Tarisa ana ing taman ing cedhak omahe, meneng anteng koyo wong linglung gara-gara di bully kancane dewe. Ing kene, Tarisa nyawangi cah cilik-cilik sing playon lan gegojekan, nganti Tarisa ra sadar yen saiki wis wengi, banjur dheweke muleh.
Ing tengah perjalanan mulih, Tarisa eroh saka kadohan bocah sakpantarane nggawa barang kang abot. Tarisa mlaku marani bocah kuwi arek ngewangi nggawa barange iku. Nalika Tarisa wis cedhak bocah iku dheweke kaget, tibake bocah iku Fida. Cepet-cepet Tarisa ngewangi nggawa barange Fida sing abot. Fida amung meneng wae ora nyapa, dheweke sungkan karo Tarisa, isin banget yen kelingan dheweke mbully Tarisa. Tibake Tarisa iku bocah apikan sing ora pantes dibully. Dheweke ngaku salah karo Tarisa. “Wis teka, Da” kanda Tarisa nalika ning omahe Fida. Fida sing nglamun langsung kaget “eh, ma-matursuwun, Sa” kandane Fida karo mesem tulus. Banjur Tarisa budhal mulih saka omahe Fida.

                                    ***

     Tarisa mlebu kelas karo setengah mesem, dheweke seneng gara-gara deingi iso ngewangi lan iso nyapa Fida maneh masio isih canggung. “Ceilah nyapo iki kok mesam-mesem dewe?” takon Rena. Nanging Tarisa ora nyauri amung meneng ae karo mesem. Banjur Tarisa marani Vino lan Rena bingung lan melu Tarisa. “Mas Vino!” bengok Tarisa nalika eroh Vino mlaku arek menyang kelase. Vino sing kroso enek sing nyeluk banjur noleh, bar kuwi Vino mesem menyang Tarisa lan Rena. “Mas Vino aku wis apikan meneh karo kancaku sing Fida, tapi aku karo dhewekke isih kroso canggung endak koyo biasane, mas” kanda Tarisa lan Rena meneng wae amarga ora ngerti kejadiane. Vino mesem eneh “yowes peneran, dek yen awakmu karo kanca-kancamu wis apikan maneh” kanda Vino banjur Tarisa pamitan ing Tarisa lan Rena arep mlebu kelas.
     “Mit kayane awake dhewe iku salah ngadohi Tarisa, dheweke iku cah apik, ora pantes dikenekne. Deingi wae Tarisa ngewangi aku nggowo barang belanjaan titipan e ibukku sing akeh wae Tarisa eroh ya ngewangi aku lo” kanda Fida sedhih. Mita sing krungu critane Fida banjur mikir nyapo kok Tarisa didohi ora dikancani, padahal Tarisa ora salah opo-opo. Mita banjur getun. “ayo awake njaluk ngapura ning Tarisa, aku sungkan lo Mit yen koyok ngene iki” kanda Fida. Akhire mita lan Fida banjur nyetuki Tarisa ing kelas lan njaluk sepura. Tarisa sing weruh kancane njaluk sepura iku kaget, banjur kancane Tarisa nyeritakne opo kesalahan e lan Tarisa saiki ngerti yen iku amung salah paham ing kekancan. Tarisa nerima sepurane kancane lan dhewekke njaluk kerukuran e marang kanca-kancane. Tarisa ora gelem yen kancane kaya ngono maneh, yen pengen oleh penjelasan lek bisa kudu takon ben ora ana salah paham. Akhire bocah papat iku rangkulan bareng. Apik e kekancan :)

Nama : Elsa Mayori
Kelas : XII IPA 5
No. absen : 09 (Sembilan)

Selasa, 21 Februari 2017

menyisipkan gambar

MENAMBAHKAN GAMBAR

 KEBERADAAN GAMBAR DAPAT MEMPERCANTIK TAMPILAN BLOG SEHINGGA BLOG TIDAK TAMPAK MONOTON, BERIKUT INI LANGKAH-LANGKAH MENAMBAHKAN GAMBAR DI BLOG:

1.klik ikon tamabah gambar
2.muncul jendela blogger,unggah gambar kemudian tekan tombool browse
3.pada kotak dialog file apload ,pilih salah satu file gambar dari komputer kemudian tekan open
4.tentukan tata letak dan ukuran dan centang kotak cek saya menyetujui....,lalu tekan tombol unggah gambar 
5.jika sudah selesai tekan tombol selesai

  
 UNTUK MEMBERIKAN LINK PADA ARTIKEL DAN GAMBAR SILAKAN ANDA KLIK GAMBAR DI BAWAH INI.





Selasa, 07 Februari 2017

pengertian blog

Blog merupakan singkatan dari weblog yaitu bentuk aplikasi web yang diwujudkan melalui tulisan- tulisan artikel yang ditampilkan sebagai posting pada halaman web.
Fungsi Blog
Blog memiliki fungsi yang beragam, mulai dari catatan harian, media publikasi, hingga kampanye untuk berbagai kepentingan baik bisnis, sosial, ekonomi, maupun politik.
Sementara dari segi kontennya, blog menampilakn posting dalam urutan terbali, artinya posting terbaru ditampilkan dibagian atas, sedangkan posting sebelumnya ditampilkan dibawahnya.