Kamis, 08 Oktober 2020

MENTAL HEALTH

 

Nama : Elsa Mayori

Fakultas : Program Pendidikan Vokasi

Prodi : Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual

Cluster : 14

Mental Health. Mungkin masih banyak orang yang belum tau pentingnya kesehatan mental, yang mereka tau hanya kesehatan fisik saja. Walaupun luarnya terlihat sehat, namun terkadang ada saja orang yang diam diam menyembunyikan masalahnya sampai dia stress dan tidak mau meceritakan masalahnya pada orang lain. Ada juga misal mahasiswa/pelajar yang kebanyakan tugas, mereka mesti diam-diam tertekan dengan hal itu. Contoh lain anak yang tertekan karena perilaku orang lain padanya,misalnya dibully. Nah itu semua termasuk faktor penyebab gangguan kesehatan mental.

Gejala gangguan mental itu tidak sama dengan gangguan kesehatan fisik. Sering kali mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental tidak sadar bahwa mentalnya terganggu. Biasanya orang yang memiliki gangguan mental memiliki kendali emosi yang buruk seperti gangguan suasana hati, stress, gampang cemas, dan lain sebagainya.

Biasanya yang rentan terkena stress itu para kaum generasi Z atau kita para remaja. Seringkali kita tidak menyadari bahwa terlalu banyak tugas itu bikin mental kita terganggu, apalagi tugasnya banyak dan deadlinenya mepet, mungkin kita akan uring-uringan, overthinking, badmood, cemas dan lain sebagainya. Secara tidak sadar itu merupakan gejala awal mental kita terganggu.

Apalagi nih sekarang marak kasus pembullyan dikalangan pelajar, ngga hanya sekarang aja sih sebenernya dari dulu kasus ini sudah marak. Misalnya aku sendiri waktu masih kecil juga sering dibullu, pas pertengahan SMA aku pernah juga dibully sampai aku mengurung diri di kamar dan bodohnya aku tidak melawan mereka. Tapi gapapa sih, dilawan juga percuma. Aku saat itu juga diam aja gaada niatan buat cerita ke orang tua, karena aku takut. Aku baru cerita ke orang tua sekitar akhir SMA kalau nggak salah.

Percaya atau tidak, bullying itu akan selalu ada. Media sosial dan cyber hanyalah salah satu perantaranya. Isolasi dan adiksi juga pasti ada pemicunya. Mengapa remaja ‘lari’ ke media sosial yang bersifat virtual? Kebosanan dan negativitas yang dirasakan dari lingkungan ‘asli’-nya bisa saja menjadi pemicu utamanya.

Justru ketika kita menelaah lebih dalam, banyak sekali situs, aplikasi, laman facebook, akun Instagram, thread Twitter yang menawarkan bantuan dan wadah support group terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental, yang kebanyakan partisipannya adalah remaja. Di sini, saya tidak bermaksud membela media sosial atau bahkan mengatakan media sosial itu baik untuk kesehatan mental.

Bila anda mencurigai kenalan, sahabat, anak, ataupun kolega yang mengalami gangguan kesehatan mental (baik ringan maupun berat) dan anda merasa tidak bisa membantunya, segeralah anjurkan atau kenalkan dengan pakar kesehatan mental seperti Psikolog. Dengan begitu, proses untuk meringankan tekanan gangguan tersebut bisa dimulai dengan cepat. Banyak-banyaklah berbincang dengan pakar kesehatan mental untuk kondisinya. Cari tahu apa yang bisa anda lakukan, terlebih dahulu ketimbang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mengalami.

Ketahuilah bahwa remaja dan dewasa muda pada umumnya saja akan mengalami fase pencarian identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah, kuliah, dan pekerjaan pertamanya. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi pikiran negatif, kecemasan berlebihan, dan pikiran-pikiran yang menghantui secara bersamaan. Dukungan adalah hal utama yang mereka perlukan.

Tidak melulu harus bersama dengan pakar. Di luar sana banyak sekali hasil riset, video pakar kesehatan mental, grup online/pertemuan untuk orang dengan gangguan kesehatan (begitu juga dengan orangtua/guru dengan anak murid dengan kesehatan mental) yang bisa ditelusuri. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu lebih banyak untuk pendekatan anda sendiri, bukan?

Kembali lagi, tidak seperti virus yang bisa disembuhkan begitu saja dengan obat atau vaksin. Gangguan kesehatan mental dengan berjuta perisa dan bentuk tidak bisa hilang begitu saja. Itulah prinsip utamanya yang tidak diketahui banyak orang. “Perang” terhadapnya membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang panjang. Pada akhirnya, mengatasi atau tidaknya (baik untuk pemerintah, orangtua, guru, dan orang orang terdekat) kembali lagi kepada pertanyaan, apakah anda cukup peduli?

 

 

 

Kamis, 01 Oktober 2020

Stop Insecure

 

Nama : Elsa Mayori

Fakultas : Program Pendidikan Vokasi

Prodi : Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual

Kalian pernah nggak sih merasa diri kita itu berbeda dengan orang lain? Kalo iya itulah yang aku rasakan sekarang. Tidak sedikit bahkan semua orang akan berkata kalau cewek harus pinter dandan dan merawat diri, kalau nggak gitu gabakal punya temen. Menurutku opini itu nggak sepenuhnya bener sih. Kalau emang kamu teman yang baik, kamu akan menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada temanmu itu. Balik lagi ke topikku ya, dulu aku jarang punya teman dan aku gatau apa alasannya, tahuku mereka gamau berteman denganku karena aku bukan anak orang kaya. Tapi ternyata itu gabener sama sekali. Mereka gamau berteman denganku karena aku ga cantik. Lucu ya, kejadian itu berlangsung saat aku kelas 6 SD. Itu awal aku insecure tentang penampilan diri. Lalu apakah aku tidak insecure dengan hal lain? Jawabannya, ya. Aku insecure dengan temanku yang pintar. Dulu sih aku ‘katanya’ termasuk murid yang pintar karena selalu masuk peringkat 3 besar, waktu itu ayahku berniat ingin memasukkan aku di SMP favorit. Tapi salah satu temanku ada yang tahu. Mereka langsung bilang ke aku kalau aku gabakalan bisa masuk sekolah favorit semacam itu, kalaupun masuk pasti lewat jalur belakang. Sepulang sekolah aku nangis dikamar dan aku berfikir apa aku tidak pantas bersekolah disitu? Aku tak pernah menceritakan itu pada orang tuaku, karena aku termasuk orang yang tertutup dan sampai sekarang pun tetap seperti itu. Akhirnya aku masuk ke SMP itu lewat jalur nilai.

Tak berhenti sampai disitu, waktu SMP aku masih merasa insecure dan tetap saja dalam hal penampilan. Aku waktu itu pendek, kurus, kulit item, rambut mengembang, dan lain lain yang ada dalam diri aku yang menurut aku berbeda dengan orang orang lain. Waktu itu teman temanku banyak yang menyukai, apalagi anak anak cowok kelas sebelah pada suka sama teman sebangkuku karena dia sangat cantik dan manis. Setiap aku berjalan berdua dengan temanku ittuu, pasti banyak anak cowok yang memanggi manggil temanku itu, sedangkan aku tidak diliri sama sekali. Beberapa hari kemudian waktu kerja kelompok bersama temanku cowok dia juga selalu mengajak ngobrol teman sebangkuku itu, lalu mereka becanda tapi entah itu menyindirku apa bagaimana yang jelas mereka membicaran tentang cewek yang tidak cantik. Akupun makin insecure sama semua itu. Akhirnya sepulang sekolah aku berdiri didepan kaca dan tetap saja aku tidak merasakan ada yang aneh dariku. Memang sih waku aku SMP temanku ada yang sudah pakai make up. Sedangkan aku ya tetep aja pake bedak bayi sama handbody, nggak pernah pakai sunscreen, dan malah aku gatau apa itu.

Waktu kelas 9 aku tetep aja ngerasa insecure. Teman temanku sudah mulai melakukan perawatan dan jadi cantik. Jangan tanyakan aku ya, soalnya aku masih pake bedak bayi. Temanku cowo juga gaada tuh yang suka sama aku, ya mungkin pas itu aku dekil jadi jijik buat temenan sama aku.

Ketika aku udah masuk SMA, aku menyukai seorang cowok. Tapi harapanku sempet pupus gara gara dia bilang langsung ke aku kalau aku itu dekil, jelek, terlalu kurus, kulit hitam, gabisa dandan, dan lain lain yang menjelekkan penampilanku. Sampai itu berlalu saat aku kelas 12 aku dekat dengan kakak kelasku, dia sudah berkuliah. Dia bilang ke aku kalau aku itu jelek, pendek, kulit item kusam, dan apalah itu. Sampai akhirnya aku berfikir, oh aku harus berubah biar mereka yang menjelekkan aku akan bilang kalo aku tidak seperti yang mereka katakan. Sampai saat itu aku sudah tidak lagi dengan kakak kelasku itu, aku fokus merawat diriku, aku mulai suka pakai masker, scrub badan, skincare, make up, dan lain sebagainya. Seiring berubahnya waktu teman temanku berkata kalau aku sudah terlihat cantik layaknya ABG cewek pada umumnya.

Aku mulai saat itu rajin berolahraga dan makan teratur hingga akhirnya aku terlihat tidak sekurus dulu, aku selalu sunscreen/sunblock saat keluar rumah, dan kini aku tidak sekusam dulu. Namun itu tidak berlangsung lama, karena ada temanku yang mengatakan aku sangat gendut, aku mencoba untuk tidak mendengarkan perkataan mereka. Tapi lama kelamaan telingaku terasa panas gara gara diomongin sana sini oleh temanku.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa mengikuti perkataan orang lain itu adalah hal yang tidak benar dan tidak ada habisnya. Sekarang aku lebih mementingkan diriku sendiri daripada perkataan orang lain. Sempat dikira gaya lah, sombong, sok tau soal kesehatan lah, tapi aku bodo amat soalnya yang paham sama tubuhku ya diriku senndiri, kalian berhak menilaiku tapi kalian tidak bisa merubahku jadi apa yang kalian inginkan. Coba deh kalian jadi aku, yang hampir setiap hari diomongin soal bentuk tubuh. Terserah mereka mau bilang apa padaku mereka juga tidak tau apa yang kita rasakan. Apalagi jika cowok yang berkata seperti itu mulutnya jahat banget dan aku gasuka. Ga disuruh orang lain pun aku juga menjaga kesehatan diri kok, tapi ya terserah mereka lah aku ‘iya’ in aja.

Jadi teman teman, mulai sekarang yuk love yourself dan jangan dengerin perkataan yang buruk dari orang lain. Boleh sih kamu dengerin orang lain, tapi ya harus yang nasihat baik ya manteman. Jangan lupa selalu percaya diri dan jangan insecure, kalian itu terutama cewek semua cantik, mau yang pendek, tinggi, gendut, kulit sawo matang, kulit putih, dll itu kalian semua cantik. Cantik itu ga hanya fisik, melainkan keindahan hati.