Nama
: Elsa Mayori
Fakultas
: Program Pendidikan Vokasi
Prodi
: Desain Grafis/Desain Komunikasi Visual
Cluster
: 14
Mental
Health. Mungkin masih banyak orang yang belum tau pentingnya kesehatan mental,
yang mereka tau hanya kesehatan fisik saja. Walaupun luarnya terlihat sehat,
namun terkadang ada saja orang yang diam diam menyembunyikan masalahnya sampai
dia stress dan tidak mau meceritakan masalahnya pada orang lain. Ada juga misal
mahasiswa/pelajar yang kebanyakan tugas, mereka mesti diam-diam tertekan dengan
hal itu. Contoh lain anak yang tertekan karena perilaku orang lain
padanya,misalnya dibully. Nah itu semua termasuk faktor penyebab gangguan
kesehatan mental.
Gejala
gangguan mental itu tidak sama dengan gangguan kesehatan fisik. Sering kali
mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental tidak sadar bahwa mentalnya
terganggu. Biasanya orang yang memiliki gangguan mental memiliki kendali emosi
yang buruk seperti gangguan suasana hati, stress, gampang cemas, dan lain
sebagainya.
Biasanya
yang rentan terkena stress itu para kaum generasi Z atau kita para remaja.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa terlalu banyak tugas itu bikin mental
kita terganggu, apalagi tugasnya banyak dan deadlinenya mepet, mungkin kita
akan uring-uringan, overthinking, badmood, cemas dan lain sebagainya. Secara
tidak sadar itu merupakan gejala awal mental kita terganggu.
Apalagi
nih sekarang marak kasus pembullyan dikalangan pelajar, ngga hanya sekarang aja
sih sebenernya dari dulu kasus ini sudah marak. Misalnya aku sendiri waktu
masih kecil juga sering dibullu, pas pertengahan SMA aku pernah juga dibully
sampai aku mengurung diri di kamar dan bodohnya aku tidak melawan mereka. Tapi
gapapa sih, dilawan juga percuma. Aku saat itu juga diam aja gaada niatan buat
cerita ke orang tua, karena aku takut. Aku baru cerita ke orang tua sekitar
akhir SMA kalau nggak salah.
Percaya atau tidak, bullying itu akan
selalu ada. Media sosial dan cyber hanyalah salah satu
perantaranya. Isolasi dan adiksi juga pasti ada pemicunya. Mengapa remaja
‘lari’ ke media sosial yang bersifat virtual? Kebosanan dan negativitas yang
dirasakan dari lingkungan ‘asli’-nya bisa saja menjadi pemicu utamanya.
Justru ketika kita menelaah lebih
dalam, banyak sekali situs, aplikasi, laman facebook, akun Instagram, thread Twitter
yang menawarkan bantuan dan wadah support group terhadap
orang dengan gangguan kesehatan mental, yang kebanyakan partisipannya adalah
remaja. Di sini, saya tidak bermaksud membela media sosial atau bahkan
mengatakan media sosial itu baik untuk kesehatan mental.
Bila
anda mencurigai kenalan, sahabat, anak, ataupun kolega yang mengalami gangguan
kesehatan mental (baik ringan maupun berat) dan anda merasa tidak bisa
membantunya, segeralah anjurkan atau kenalkan dengan pakar kesehatan mental
seperti Psikolog. Dengan begitu, proses untuk meringankan tekanan gangguan
tersebut bisa dimulai dengan cepat. Banyak-banyaklah berbincang dengan pakar
kesehatan mental untuk kondisinya. Cari tahu apa yang bisa anda lakukan, terlebih dahulu
ketimbang apa yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mengalami.
Ketahuilah
bahwa remaja dan dewasa muda pada umumnya saja akan mengalami fase pencarian
identitas diri, gejolak hormon, dan tekanan yang besar dari sekolah, kuliah,
dan pekerjaan pertamanya. Tidak mudah bagi mereka untuk menghadapi pikiran
negatif, kecemasan berlebihan, dan pikiran-pikiran yang menghantui secara
bersamaan. Dukungan adalah hal utama yang mereka perlukan.
Tidak
melulu harus bersama dengan pakar. Di luar sana banyak sekali hasil riset,
video pakar kesehatan mental, grup online/pertemuan untuk orang
dengan gangguan kesehatan (begitu juga dengan orangtua/guru dengan anak murid
dengan kesehatan mental) yang bisa ditelusuri. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu lebih
banyak untuk pendekatan anda sendiri, bukan?
Kembali
lagi, tidak seperti virus yang bisa disembuhkan begitu saja dengan obat atau
vaksin. Gangguan kesehatan mental dengan berjuta perisa dan bentuk tidak bisa
hilang begitu saja. Itulah prinsip utamanya yang tidak diketahui banyak orang.
“Perang” terhadapnya membutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang panjang. Pada
akhirnya, mengatasi atau tidaknya (baik untuk pemerintah, orangtua, guru, dan
orang orang terdekat) kembali lagi kepada pertanyaan, apakah anda cukup peduli?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar